berita narkoba

Berita Nasional Narkoba
Tampilkan postingan dengan label bnn. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bnn. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 November 2012

Bengkalis Raih Piala Adipura


Bengkalis, bnn
Di balik kesuksesan para pekerja kebersihan Dinas Pasar, Bengkalis  dapat meraih Piala Adipura Kategori kota kecil terbersih, hari Selasa, 06 Juni 2012, sekitar pukul 10.00 WIB. Sejumlah pejabat pemerintahan, pekerja kebersihan, dan anak-sekolah  menyambut kedatangan Piala Adipura yang dibawa oleh Bupati  Bengkalis, H. Herliyan saleh, beserta istri dan Kepala Dinas Pasar, Indra Gunawan,  mengendarai feri "Pemdalis 05" dari Siak Kecil. Setiba di dermaga Bandar Sri Laksamana,  Kabupaten Bengkalis, Piala Adipura tersebut disambut dengan acara Penyambutan Kompang, acara tepuk tepung tawar, yang dihadiri berbagai kalangan seperti anak-anak sekolah, pekerja kebersihan, pejabat Pemkab Bengkalis, dan  juga para wartawan dari berbagai media.

Usai acara tepuk tepung tawar, Bupati Bengkalis beserta rombongan keluar dari Bandar Sri Laksamana sambil mengangkat tangan para pekerja kebersihan yang mengelu-elukan piala tersebut: "Hidup Bengkalis, hidup Dinas Pasar,"  sambil menjelaskan kepada masyarakat bahwa karena kerja keras merekalah piala itu bisa diraih Kota Bengkalis. Dan, tak menungu lama,  Piala Adipura tersebut dibawa keliling kota oleh  bujang dan dara yang diikuti serentak oleh para pekerja Dinas Pasar serta rombongan pejabat pemerintah lainnya. Sepantasnyalah prestasi itu dibanggakan masyarakat Bengkalis menyusul kesuksesan para pekerja kebersihan.

Selanjutnya, diadakan acara serah terima di Gedung Daerah Kabupaten Bengkalis dihadiri para pejabat teras Kabupaten Bengkalis. Seluruh masyarakat Bengkalis bangga atas prestasi itu, sebab peraihan Piala Adipura tersebut berhasil dipertahankan kota Bengkalis setelah beberapa kali diraih sejak kepemimpinan Bupati H. Syamsurizal MM hingga Bupati H. Herliyan Saleh.

Acara pawai serta serah terima piala tersebut sangat dinantikan khalayak Bengkalis, karena hal itu dinilai bisa dijadikan contoh bagi kota-kota kecil lainnya di seluruh wilayah NKRI. Prestasi tersebut diharapkan masyarakat Bengkalis tidak cuma pada tahun 2012 ini saja, tetapi juga di tahun-tahun yang akan datang. "Jangan hanya tahun ini Kota Bengkalis dinyatakan bersih, kalau bisa tahun nantinya Piala Adipura itu bisa diraih kembali," tutur Ismed, salah seorang guru sebuah Sekolah Dasar di Kota  Bengkalis.  (bnn/sbi)

Anggota DPRD Sulut, Akbar Datunsolang: Bawa Sabu Dari Jakarta, Diborgol di Manado

Manado, bnn
Terobosan polisi Sulawesi Utara (Sulut) dalam memberantas barang haram narkoba di daerah bumi nyiur melambai, ternyata bukan slogan semata. Buktinya, politisi muda Partai Amanat Nasional (PAN) Akbar Datunsolang (28) yang adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sulut sekaligus putra kesayangan Bupati Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) Hamdan  Datunsolang, ditangkap begitu tiba dari Jakarta di Bandara Sam Ratulangi.

Akbar Datunsolang ditangkap oleh Kepolisian Resort Kota (Polresta) Manado dan ditetapkan sebagai  tersangka, sebab hasil pemeriksaan urine membuktikan Akbar positif mengonsumsi narkoba jenis sabu-sabu. Saat dikonfirmasi bnn hari Rabu, 27 Juni 2012, Kapolresta Manado Kombes Pol. Amran Ampulempang membenarkan penetapan Akbar menjadi tersangka, setelah penyidik menerima hasil tes urine dan pemeriksaan barang bukti (BB) dua paket sabu-sabu adalah benar milik Akbar.
Ampulempang menjelaskan, dari  hasil pemeriksaan BB di laboratorium Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Manado, terbukti bahwa barang yang dibawa Akbar itu adalah sabu-sabu. Begitu juga hasil tes urine Akbar di Rumah Sakit Ratumbuy-sang, menunjukkan bahwa dia positif mengon sumsi narkoba jenis sabu-sabu.

Kepada bnn, Amran mengatakan, karena status Akbar sebagai pejabat negara, pihaknya akan secepatnya melaporkan perkembangan kasus tersebut kepada Gubernur Sulut. Bah-kan, lanjut Amran, pihaknya akan menindak lanjuti kasus tersebut hingga tuntas. "Untuk tersangka Akbar, dari pihak kami sebagai polisi sudah mengeluarkan surat penahanan. Dan, tidak berhenti sampai di situ, kami akan terus  menelusuri lebih lanjut dari mana asal muasal barang haram tersebut bisa berada di tangan tersangka," tutur Kombes Pol. Amran Ampulempang.

Kepada masyarakat Sulut khususnya para pemukim Kota manado, Amran mengimbau supaya jangan terjebak dan terseret dengan barang haram narkoba yang bisa mencelakai diri, merusak masa depan, dan menghancurkan moral bangsa. "Mari kita hindari dan katakan tidak kepada barang haram  narkoba. Bahkan jika menemukan dan melihat ada pengedar ataupun  pemakai, jangan takut untuk segera melaporkan ke polisi," ujarnya ramah.

Langkah gemilang yang dilakukan Polresta Manado dalam memberantas penyebaran narkoba itu disambut baik dan didukung oleh masyarakat Sulut yang sempat diwawancarai bnn. Sejumlah mahasiswa di Universitas Sam Ratulangi memberikan acungan jempol kepada pihak kepolisian. "Bagitu no kalu polisi butul. Biar lei pembesar pe anak, ato biar lei dia anggota DPR yang terhormat, tangka kalu salah,"  ujar Isye, mahasiswa Fakultas Hukum UNSRAT, yang menga-ku putri seorang pejabat teras Pemprov Sulut.

Beberapa tokoh masyarakat dan pejabat Pemkab Bolaang Mongondow Timur, malah menilai bahwa Akbar Datunsolang sudah benar-benar men-coreng kehormatan ayahnya yang cukup disegani di seluruh wilayah Bolaang Mongondow.

"Kasihan Pak Hamdan! Gara-gara ulah anaknya, dia jadi sasaran pergunjingan negatif di beberapa Pemkab di wilayah Bolaang Mongondow, baik di antara para pejabat karier maupun di antara para politisi," papar seorang pejabat di Pemkab Minahasa Selatan, yang menga-ku teman sekolah dari Bupati Bolmut, Hamdan  Datunsolang.(ap)

Ka BNNK Rohil, H Suyatno MP: Mari Bersama Awasi Wilayah Perbatasan!


Bagansiapiapi-api, bnn
Ketua Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), H Suyatno MP, mengimbau semua pihak agar ikut memerangi narkoba yang kini rentan menyerang  remaja dan generasi muda di Rohil.

Untuk itu, seluruh warga Rohil diajak agar ikut mengawasi wilayah-wilayah perbatasan di kabupaten yang berbatasan dengan negara tetangga Malaysia dan Singapura itu. H Suyatno MP  yang sekaligus adalah Wakil Bupati Rohil menegaskan kepada wartawan di Bagansiapiapi hari Kamis, 19 Juli 2012, “kekuatiran orang tua terhadap kenakalan remaja dan generasi muda, kini terkait ancaman narkoba sehingga perlu mendapat perhatian serius. Ancaman itu tidak hanya datang dari pemasok narkoba lokal, namun juga disusup dari luar negeri  karena posisi Rohil berada di tempat strategis, berdekatan dengan Selat Malaka, dan pintu gerbang Provinsi Riau dan Sumatra Utara,” ujar H Suyatno MP.

Untuk itu, pihaknya sangat berharap kerja sama semua pihak untuk mengawasi daerah daerah perbatasan di Rohil yang sering dijadikan sasaran penyusupan narkoba oleh sindikat nasional dan internasional. Suyatno pun berujar, yang diungkapkannya itu bukan tidak beralasan.

"Sebab, dalam berbagai penggrebegkan dan penangkapan yang dilakukan pihak kepolisian, terbukti narkoba sering dibawa agen dari Malaysia dan masuk ke Indonesia melalui Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kubu, Pulau Halang, Sinaboi, dan juga Bagansiapiapi. Wilayah-wilayah itu  merupakan daerah yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka. Makanya ke depan, kita harus terus meningkatkan patroli di derah perairan Rohil agar wilayah ini tidak menjadi jalur perdagangan narkoba Internasional,” kata H Suyatno MP. Dia mengajak setiap masyarakat yang melihat hal hal yang mencurigakan, segera melaporkan kepada pihak berwajib. Imbas dari narkoba itu sangat berbahaya, merusak mental dan masa depan remaja dan generasi muda harapan bangsa ini,” papar H Suyatno MP mengakhiri.  (alpasera)

Polres Bitung Siap Perangi Narkoba

 
Bitung, bnn
Demi menyelamatkan masa depan anak bangsa yang penuh harapan dari cengkeraman narkoba khususnya di wilayah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Kepolisian Resort (Polres) Kota Bitung secara terus menerus memerangi perdagangan barang haram tersebut.

Sebagai salah satu pelabuhan internasional di Kawasan Timur Indonesia (KTI), Kota Bitung  yang terpaut sekitar 60 Km sebelah utara ibukota Provinsi Sulut, Manado, dijuluki sebagai pintu gerbang timur NKRI. Pasalnya, armada kapal dagang internasional dari Filipina, Jepang, bahkan Singapura dan Malaysia, menjadikan Pelabuhan Bitung sebagai tujuan potensial, sehingga pelabuhan yang tergolong cukup besar itu menjadi andalan bisnis dan salah satu aset primadona rakyat Sulut. Kendati begitu, potensi bisnis yang menghadirkan kemegahan sebuah kota pelabuhan internasional, sekaligus menjadikan Bitung sebagai bandar yang juga sarat maksiat.

Kapolres Bitung, AKBP Satake Bayu Sik, mengatakan kepada bnn di Mapolres Bitung medio Juli 2012, di balik kemegahan gerbang timur NKRI itu, tergelar berbagai perangkap maksiat seperti narkoba, minuman keras, perjudian, pelacuran, yang memang sangat akrab bagi kota-kota pelabuhan. Makanya, jika tidak diantispasi serius berbagai hal yang memicu berkembangnya hal-hal maksiat itu, Kota Bitung sekaligus akan menjadi gerbang maksiat yang menakutkan. "Terutama untuk narkoba, kalau tidak diperangi secara serius, potensinya akan meluas dan akan sangat mudah berkembang bila masyarakat luas tidak ikut berpartisipasi aktif mendukung Polri," kata Satake.

Polres Bitung sendiri, menurut Satake, sudah memiliki sejumlah langkah konkret berkaitan dengan upaya pencegahan bahkan pemberantasan perdagangan gelap narkoba. Pertama, jajaran Polres Bitung sudah melakukan himbauan secara luas kepada masyarakat Bitung lewat pemasangan spanduk-spanduk yang berisi berragam panduan anti-narkoba serta pencegahan untuk mengonsumsi alkohol. Kedua Polres turba menyosialisasikan ke sekolah-sekolah agar para murid kian mengenal dan mengerti bahaya narkoba itu. Wilayah masyarakat ini (sekolah, red), tutur Satake, adalah wilayah yang paling depan terserang narkoba, sehingga banyak kali ditemukan narkoba bersarang pada  kerumunan kaum pelajar atau para muda mudi. Dan yang ketiga, Polres Bitung mengupayakan dan mengembangkan tindakan razia berbagai lokasi club malam/hiburan, hotel, wilayah pelabuhan yang ada di kota Bitung, bahkan di rumah-rumah penduduk. "Di wilayah-wilayah rawan itu selama saya menjabat Kapolres Bitung, sudah dua kali kami berhasil mengungkap dan menangkap para  pemakai dan pengguna narkoba," ujar Satake. Di antara para tersangka yang tertangkap tangan ketika menggunakan barang haram itu, ada juga  yang menggunakan narkoba di rumah penduduk dan terjaring razia yang dilakukan Polres Bitung.

Itu sebabnya, kata Satake, jangan kaget dan heran kalau di Bitung tiba-tiba ada razia di perumahan penduduk. "Makanya saya minta kepada masyarakat sekota Bitung ini, untuk jangan pernah memakai narkoba dan jangan berhubungan atau juga berteman dengan pengedar atau pemakai narkoba. Itu bisa menjerumuskan dan menghancurkan masa depan, sekaligus risikonya di hotel Prodeo. Sebaliknya dia minta kepada seluruh masyarakat Bitung, untuk bekerjasa sama lewat mencari dan memberikan informasi yang akurat bila tahu atau menemukan ada pemakai dan pengedar narkoba yang berkeliaran di gerbang timur NKRI itu. (ape)

Senin, 19 November 2012

Contoh Tragis Keluarga Brown-Houston, Narkoba Hancurkan Seluruh Keluarga!


New Jersey, bnn
Prosesi pemakaman yang dipimpin Pendeta Jemaat Gereja Baptis New Hope, Newark, New Jersey (AS), hari Sabtu petang, 18 Feb 2012, itu berlangsung mengharukan.

Betapa tidak, rekan-rekan sesama penyanyi altar yang dulu pernah bersama-sama Whitney Houston memuji Tuhan dari altar gereja tersebut, ikut mengantar diva kondang itu ke persemayamannya yang terakhir. Lantas lagu-lagu penyembahan kepada Tuhan pun melantun lirih.

Dan, Bobbi Kristina, putri mendiang Whitney Houston dan mantan suaminya Bobby Brown, terus menggandeng tangan serta berada di samping neneknya, Cissy Houston, sepanjang upacara pemakaman sang bunda berlangsung.

Namun saat upacara kebaktian selesai, dan peti mati ibunya diangkut keluar dari Gereja Baptis  New Hope, gadis remaja 18 tahun itu tiba-tiba menghilang tak diketahui rimbanya. Situasi itu mengundang gempar serta khawatir di antara kerabat dan rekan-rekan segereja keluarga Houston. Pasalnya, menurut UsWeekly, hari Senin 20 Feb 2012, banyak orang-orang dekat Whitney Houston menduga bahwa Bobbi hilang karena akan menggunakan narkoba, sehingga itu dikatakan sebagai contoh tragis keluarga yang terjebak barang haram tersebut.

Tetapi seorang kerabat keluarga Houston mengatakan, Bobbi dipastikan dalam keadaan baik dan sekaligus dia membantah dugaan bahwa Bobbi menghilang dari antara keluarganya untuk memakai narkoba, saat jenazah ibunya akan dimakamkan. “Memang benar ada kekuatiran saat Bobbi Kristina tak diketahui keberadaannya pada Sabtu malam, tapi ternyata dia baik-baik saja. Dia hanya butuh waktu menyendiri,” kata kerabat Houston itu kepada The Daily Beast, hari Minggu, 19 Feb 2012. 

Tetapi sejumlah saksi mata yang dekat dengan keluarga Houston mengatakan, sepanjang hari-hari setelah kematian Whitney Houston, tingkah Bobbi membuat banyak orang kuatir. Alasannya, pada hari Sabtu, 11 Feb 2012, saat ibunya meninggal di Hotel Beverly Hilton, Bobbi berada di hotel yang sama dengan ibunya. Namun karena terlalu kaget dan sedih, Bobbi sampai harus dilarikan ke rumah sakit hingga dua kali.
Petaka dalam keluarga Whitney Houston itu, diduga berawal pada terjebaknya mantan suami Whitney ke dalam pemakaian kokain. Itulah yang menjadikan Whitney dan Bobby kemudian sama-sama masuk ke dalam dunia narkoba, sekalipun tak ada pihak yang membuka situasi keluarga itu secara terang benderang. Makanya, seperti ibu dan ayahnya, Bobbi Kristina Brown juga akhirnya terlibat penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

Ba kata pepatah "Guru kencing berdiri, murid kencing berlari." Sang ayah dan ibu menggunakan narkoba, maka tak heran kalau si anak pun tertular kebiasaan buruk itu. Sehingga pada bulan Maret 2011, Bobbi Kristina pernah jadi bulan-bulanan media gosip saat potretnya tengah menghisap kokain terpampang di tabloid National Enquirer.

Bobbi Kristina kemudian menjelaskan kepada pers, foto-foto tersebut diambil mantan pacarnya. "Tetapi yang terjadi, sesungguhnya tidak seperti kelihatannya di foto,” tegas Kristina. 

Pasca kematian Whitney Houston berbagai media infotainment dan gosip AS mengabarkan, bahwa Whitney dikabarkan tewas karena mengalami overdosis obat-obatan jenis kokain. Lantas, 
sebelum kematiannya yang kontroversial itu, Whitney memang tengah berjuang melawan ketergantungannya terhadap narkoba, dan semua situasi ibunya itu diketahui Bobbi Kristina.
Bobbi tahu bahwa kokainlah yang menghancurkan hidup ibunya, termasuk mengapa ibunya terjebak dalam sejumlah kisah asmara dengan beberapa lelaki, dan mengapa pula ibu dan ayahnya harus berpisah.

Sensitif dan Kasar
Tanpa sengaja menjelang Natal 2011, Bobbi Kristina mengisahkan kepada seorang sahabat dekatnya Patricia Roscoe, bahwa ibunya kian kehilangan keseimbangan, sensitif, dan terkadang kasar. "Dia masih tetap mengasihi saya, tetapi pada situasi tertentu dia bisa tiba-tiba meledak-ledak. Ini aneh, karena dulu mama tidak seperti itu. Dia lembut dan sangat menyayangi saya," papar Kristina, seperti dikutip tabloid National Enquirer.
Dan, apa yang dituturkan Kristina itu seakan-akan menjawab peristiwa sesudah itu, ketika  hampir saja Whitney Houston dipaksa keluar dari sebuah penerbangan Delta Airlines beberapa waktu sebelum dia ditemukan tewas, hanya karena soal sepele.

Entah mengapa saat itu, Whitney menolak menggunakan sabuk pengaman menjelang pesawat akan lepas landas. Ketika petugas kabin pesawat itu meminta dia memasang sabuk pengaman, serta merta Whitney menolak dan melontarkan kata-kata kasar kepada si pramugari. Tetapi pramugari itu tetap memintanya memakai sabuk pengaman, dan menjelaskan kepada Whitney bahwa pesawat tak mungkin take off bila masih ada penumpang yang menolak mematuhi standar keselamatan tersebut.

Sejumlah penumpang yang berada di pesawat itu mengatakan kepada pers setelah pesawat mendarat di Detroit, Whitney dengan tegas dan jelas menolak mengenakan sabuk pengaman meskipun sudah diperingatkan dengan sopan oleh si pramugari. Namun karena Whitney tetap tak bersedia memasang sabuknya, petugas kabin lainnya (laki-laki, red) datang dan mengancam akan menurunkannya. Whitney pun tak menolak ketika si pramugara memasangkan sabuk pengaman buatnya, kendati tetap saja Whitney tidak bersedia mengenakan sendiri sabuk pengamannya.

Menurut sumber yang dekat dengan Whitney, peristiwa itu terjadi ketika diva dunia tersebut  dijadwalkan berada di Detroit untuk syuting film terbarunya, Sparkle. Karena gagal mengikuti jadwal penerbangan yang lebih awal, akhirnya Whitney yang pada bulan Mei 2011 masuk klinik rehabilitasi kecanduan obat dan alkohol itu bertingkah sedikit di luar batas. "Untung insiden kecil itu tak sampai membuat Whitney gagal berangkat dari Atlanta menuju Detroit saat itu," kata kerabatnya itu. 

Lantas para penggemar Whitney mengingat, bahwa pada sebuah wawancara televisi ABC beberapa tahun silam, dia pernah mengungkapkan bagian inti dari kepribadiannya. "Iblis terbesar dalam diri saya ialah saya bisa jadi sahabat baik tetapi sekaligus musuh terburuk," kata Whitney Houston didampingi suaminya Bobby Brown kepada reporter stasiun televisi ABC, Diane Sawyer, dalam sebuah wawancara terkenal pada tahun 2002.

Mengenang situasi tersebut, ibunda Whitney, Cissy Houston mengatakan, putrinya memang sudah lama kehilangan jati dirinya akibat situasi keluarganya. Cissy tidak menjelaskan rinci, tetapi dari kedekatannya dengan cucunya, Kristina, dia bisa menebak bahwa hubungan tidak serasi antara Whitney dan mantan suaminya itulah yang menjadi akar dari segala kepahitan Whitney. "Saya berharap cucu saya tidak menyerap semua yang buruk dari kehidupan ayah ibunya," tutur  Cissy Houston kepada The Daily Beast usai pemakaman Whitney, kendati tidak secara nyata mengakui bahwa cucunya kini sudah jauh terjebak narkoba. (ian/erde)

Ditangkap! Dua Unit Kapal Pencuri Ikan Malaysia

 
Tak jera-jera-nya armada ka-pal ikan jenis trawl berben-dera Malaysia masuk menang-kap ikan di zone ekonomi eks-klusif (ZEE) Indonesia. Pertengahan Juni silam, operasi gabungan Diskanlut (Dinas Perikanan dan Kelautan), Corps Polisi Militer (CPM), Koramil, dan Him-punan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), berhasil menangkap dua unit kapal ikan jenis trawl berbendera Malaysia yang tengah beroperasi mencuri ikan di wilayah ZEE Indonesia, di wilayah perairan Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau.

"Keberhasilan operasi gabungan di laut tersebut berkat informasi para nelayan," tutur Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Ka Diskanlut) Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, Ir. H. Amrizal kepada bnn, ketika ditemui di dermaga di Jalan Karya Pelabuhan Nelayan Bagansiapiapi hari Jumat sore, 15 Juni 2012.
Menurut Amrizal, tim gabungan beroperasi menggunakan kapal pengawas Diskanlut KM “Pulau Jemur.” Didampingi anggota CPM, Ibrahim, Ketua HNSI Rohil seka-ligus Ketua Kelompok Nelayan Rohil, Ramli Khulal, Amrizal menuturkan bahwa setelah mendengar informasi dari para nelayan lokal itu pihaknya langsung turun ke lapangan melihat langsung ke TKP (tempat kejadian perkara). Pasalnya, ada di antara perahu ikan nelayan lokal itu yang ditabrak kapal trawl berbendera Malaysia tersebut. Tim gabungan pun segera melaut menggunakan kapal pengawas Diskanlut KM "Pulau Jemur" dengan kekuatan satu anggota CPM, Ibrahim, tiga anggota Koramil, Ketua HNSI Rohil bersama sejumlah nelayan Rohil, serta lima staf termasuk Ka Diskanlut Rohil.

Sekitar Pukul  06.15 WIB, hari Jumat 15 Juni 2012, tim memergoki sebuah kapal ikan berbendera Malaysia sedang menangkap ikan di perairan dalam kawasan Pulau Jemur, tepatnya di Pulau Tukong Emas pada posisi 020,  40', 353'' Lintang Utara dan 1000, 40', 531'' Bujur Timur. "Langsung kami dekati kapal trawl Malaysia bernomor lambung PKFB 1267  itu. Sesudah kapal itu kami kuasai dengan menempatkan petugas di atasnya dan sedang diarak ke arah Pelabuhan Bagansiapiapi, tak dinyana kami menemukan lagi sebuah kapal trawl Malaysia dengan nomor lambung PKFA 7945 sedang menangkap ikan di perairan ZEE kita. Langsung saja kami tangkap juga kapal itu," kata Amrizal.

Menurut dia, kecepatan kapal tersebut jika tidak sedang menarik pukat harimau, sekitar 20 knot per jam dengan GT (gross tonage) kurang lebih 100 ton. Kapal yang ditangkap pertama bernomor lambung PKFB 1267 dinakodai A Ha dengan empat orang ABK (awak buah kapal) warga negara Myanmar ber-Identity Card (IC) Malaysia memuat ikan hasil tangkapan kurang lebih satu ton. Sedangkan kapal yang ditangkap kedua bernomor lambung PKFA 7945 dinakodai A Hoe beserta empat warga negara Myanmar ber-IC Malaysia, memuat ikan hasil tangkapan kurang lebih 750 ton.

Tepat pukul 08.00 WIB di hari yang sama, kedua kapal itu diarak ke Pelabuhan Perikanan Bagan-siapiapi, namun papar Amrizal kapal-kapal itu sempat kandas di muara masuk ke Bagansiapiapi sehingga harus menunggu air pasang sekitar tiga jam lebih. "Setelah air pasang, barulah kami melanjutkan lagi pelayaran hingga tambat di dermaga sekitar pukul 14.00 WIB," jelas Amrizal.

Kedua kapal sebagai barang bukti (BB) diamankan petugas Diskanlut, sedangkan BB  berupa ikan hasil tangkapan kedua kapal tersebut langsung dilelang setelah administrasinya lengkap. "Maka-nya, hari ini (Jumat, 15 Juni 2012, red) dilakukan terlebih dahulu kelengkapan administrasi. Kalau waktu tidak memungkinkan, maka mau tidak mau jika ikan tersebut sudah membusuk tentunya dimus-nahkan. Sedangkan kedua nakhoda kapal tersebut diproses penyidikannya bekerjasama dengan pihak terkait di negara asal mereka, karena hal ini menyangkut hubung-an antar negara," tutur Amrizal.

Tepat pukul 08.00 WIB di hari yang sama, kedua kapal itu diarak ke Pelabuhan Perikanan Bagansiapiapi, namun papar Amrizal kapal-kapal itu sempat kandas di muara masuk ke Bagansiapiapi sehingga harus menunggu air pasang sekitar tiga jam lebih. "Setelah air pasang barulah kami melanjutkan lagi pelayaran hingga tambat di dermaga sekitar pukul 14.00 WIB," jelas Amrizal.

Kedua kapal sebagai barang bukti (BB) diamankan petugas Diskanlut, sedangkan BB  berupa ikan hasil tangkapan kedua kapal tersebut langsung dilelang setelah administrasinya lengkap. "Makanya, hari ini (Jumat, 15 Juni 2012, red) dilakukan terlebih dahulu kelengkapan administrasi. Kalau waktu tidak memungkinkan, maka mau tidak mau jika ikan tersebut sudah membusuk tentunya dimusnahkan. Sedangkan kedua nakhoda kapal tersebut diproses penyidikannya bekerjasama dengan pihak terkait di negara asal mereka. Karena hal ini menyangkut hubungan antar negara," tutur Amrizal.   Penulis adalah Kepala Biro Tab bnn Rokan Hilir, tinggal di Bagansiapisiapi

"Unima Diduga Terbitkan Ijazah Palsu!"

Universitas Negeri Manado, di singkat UNIMA, adalah sa-lah satu perguruan tinggi negeri yang berada di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). UNIMA berlokasi di daerah pegunungan Kabupaten Minahasa, 800 meter dari permukaan laut dan sekitar 40 km dari kota Manado, ibukota provinsi Sulut. Kampus UNIMA terletak di atas lahan seluas 270ha dengan suhu sejuk sekitar 24-270C di siang hari dan 180 C pada malam hari, sehingga suasana belajar mengajar menjadi lebih kondusif. Berawal dari Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Tondano, satu dari empat PTPG yang didirikan pertama di Indonesia, yakni PTPG Batusangkar, PTPG Malang, PTPG Bandung, dan PTPG Tondano. Namun, berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 2450/KB/1955 pada 22 September 1955, PTPG Tondano meng-alami berbagai perubahan. Mula-mula menjadi FKIP Universitas Hasanuddin Makassar, lalu berubah menjadi FKIP Unhas Tondano di Manado, FKIP Unsulutteng, IKIP Yogyakarta Cabang Manado, dan terakhir menjadi IKIP Manado yang berdiri sendiri berdasarkan Surat Keputusan Menteri PTIP Nomor 38 tanggal 8 Maret 1965 juncto Keppres Nomor 275 Tahun 1965 tanggal 14 September 1965.    

Pada tanggal 13 September 2000, IKIP Manado dikonversi menjadi Universitas Negeri Manado (UNIMA) berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia Nomor 127 Tahun 2000 dan diresmikan oleh Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Yahya Muhaimin, pada 14 Oktober 2000.

Sejak tahun 2008-2012, UNIMA dipimpin Rektor Prof. Dr. Philoteus EA. Tuerah, M.Si, DEA, dan memiliki fungsi ganda. Yakni, selain menciptakan tenaga ahli dan tenaga profesional di bidang Kependidikan, UNIMA juga menciptakan tenaga ahli dan tenaga profesional di bidang non-Kependidikan. Selain tugas utama tersebut, UNIMA juga dipercayakan menyelenggarakan program sertifikasi guru, pendidikan profesi, dan program peningkatan kualifikasi akademik guru.

Sayangnya, di balik  kesuksesan Tuerah,  nama UNIMA kini mulai disorot isu miring di SULUT bahkan hingga ke pusat, dengan munculnya sejumlah laporan kasus korupsi yang telah dilaporkan Dosen Fakultas Teknik, Ir. Stanly Handry Ering, ke Presi-den RI,  Dikti, KPK, Mabes Polri, Polda Sulut, Kejati Sulut, dan Kejari Tondano. Kini, muncul lagi pernyataan dari Inspek-torat Kemendikbud yang membenarkan bahwa ternyata di bawah kepemimpinan Prof.DR. Ph.E.A Tuerah, Msc. Dea, UNIMA telah menerbitkan berbagai ijazah palsu. Modus jaringan kejahatan itu mulai terkuak ke permukaan, ketika pada 12 Desember 2011 Dosen Fatek, Ir. Stanly Handry Ering, secara resmi melaporkan  kejahatan itu ke Polda Sulut. Dipaparkan Ering, bahwa telah terjadi dugaaan pemalsuan dan penjualan NIM (Nomor Induk Mahasiswa) yang berakibat pada terbitnya ijazah sarjana (S1) yang terindikasi ilegal karena menggunakan NIM palsu di UNIMA.

Anehnya,  setelah sang Dosen Fatek UNIMA melaporkan kasus tersebut, tiba tiba  muncul laporan bahwa UNIMAlah yang lebih dahulu membongkar kasus tersebut ke Polres Tondano. Yakni pada tanggal 03 Oktober 2011, mewakili lembaga UNIMA Biro AKK,  Nontje Bato melaporkan bahwa pada bulan September 2011 di lembaga UNIMA telah terjadi penggantian angka NIM, dan atas kejadian tersebut pelapor merasa berkeberatan dan memohon Polres Tondano mengusut tuntas kasus itu. Pada surat bernomor B/09/1/2012  Polres Tondano dengan SP2HP menyam-paikan, bahwa modus operandi kasus itu dilakukan oleh mahasiswa sendiri, sehingga Polres Tondano meminta kepada pelapor untuk mencari data dan fakta siapa oknum-oknum pegawai yang terlibat mengambil uang dari mahasiswa dan mengubah NIM yang tertulis tidak sesuai dengan nama mahasiswa. Menilai subtansi kejahatan itu, Polres Tondano menyimpul-kan bahwa kejahatan tersebut adalah perbuatan yang melanggar norma akademik karena adanya perbuatan grativikasi antara mahasiswa dan pegawai guna mempercepat proses penyelesaian mereka.
Pertanyaannya, bukankah untuk meng-ungkap fakta kejahatan adalah wewenang institusi hukum yakni polisi? "Sungguh sangat tidak masuk akal, mengapa justru pelapor yang diminta untuk mencari data dan fakta dalam kejahatan tersebut? Apalagi yang dilaporkan oleh Ir. Stanly Handry Ering ke Polda Sulut substansi dan sasarannya sangat berbeda jauh dengan apa yang dilaporkan oleh Nontje Bato di Polres Tondano," tutur  sumber bnn yang minta identitasnya tidak dimediakan.

Ering melaporkan bahwa kejahatan akademik  itu sudah dimulai sejak tahun 2007.  Dan, pada laporan 12 Desember 2011 itu, Ering melaporkan ke Polda Sulut bahwa terjadi dugaan pemalsuan dan penjualan NIM Angkatan 2007 yang sudah ada pemilik sah kepada orang yang tidak berhak, dan terjadi pula penerbitan ijazah Sarjana Pendidikan (S.Pd) dan Akta Mengajar guru kelas  yang diperoleh  tanpa  mengikuti kegiatan akademik  di UNIMA. Ijazah/Akta Mengajar tersebut terindikasi Ilegal karena menggunakan NIM palsu dengan modus:
a)     Mahasiwa mendaftar ke UNIMA pada tahun akademik 2008, pada program PSKGJ (Program Sarjana Kependidikan Guru  dalam Jabatan), dan memperoleh NIM 2008 sehingga belum dapat menguji ujian pada tahun 2011 karena masa perkuliahan yang ditempuh belum cukup dan tidak sesuai studi pada program PSKGJ.

b) Pada akhir tahun 2010, mahasiswa Angkatan 2008 mendapatkan NIM mundur yakni tahun 2007 yang dibeli seharga Rp 1 juta per mahasiswa, dan dananya dikumpulkan oleh Ketua Kelas, Johana Supit (sesuai bukti rekaman). Kemudian, dana tersebut disetor kepada oknum Dosen yang kini baru menjabat Pembantu Dekan 2 (PD2) di Fakultas Ilmu Pendidikan UNIMA, yang tidak lain adalah adik kandung dari Rektor Unima, Prof.DR. Ph.E.A Tuerah, M.Si. DEA.
c) Setelah mendapatkan NIM mundur tahun 2007 dan status mahasiswa dialihkan dari mahasiwa PSKGJ ke mahasiswa regular Fakultas ilmu pendidikan oleh oknum Dosen FIP (ibu Ros Tuerah), pada tanggal 24 Maret 2011 Rektor UNIMA mener-bitkan surat persetujuan Nomor 03355/UN41/PS/2011 untuk ujian akhir, meskipun mahasiwa meng-gunakan dokumen ilegal/palsu.
d) Pada tanggal 11 April 2011 sebanyak satu kelas mahasiswa tanpa mengikuti kegiatan di FIP, mengikuit ujian akhir mahasiswa dengan status mahasiswa reguler FIP, bukan mahasiwa program PSKGJ.
e)     Ujian akhir mahasiswa dilakukan di luar kampus FIP UNIMA, tidak sebagaimana lazimnya mahasiwa FIP ujian akhir di kampus Fakultas Ilmu Pendidikan yang berlokasi di kota Tomohon.
f)    Pada 20 Juni 2011, sebanyak 16 mahasiwa dengan NIM yang diduga ilegal/palsu dan telah mengikuti ujian akhir di luar kampus UNIMA memperoleh ijazah S1 serta Akta Mengajar yang ditandatangani oleh Dekan FIP dan Rektor UNIMA kemudian menyandang gelar sarjana pendidikan (S.Pd) serta diwisuda oleh Rektor UNIMA di Hotel Sutan Raja.
g) Setelah diteliti, 16 mahasiswa yang menggunakan NIM mundur 2007 itu tidak terdaftar pada Buku Induk UNIMA tahun 2007, bahkan juga tidak terdaftar pada EPSBED (Evaluasi Program Studi Berbasis Evaluasi Diri), Database Mahasiswa Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2007.
h)    Ke 16 mahasiswa yang diwisuda, ternyata menggunakan NIM Tahun 2007 atas nama mahasiswa lain sebagai pemilik sah NIM 2007 (sesuai investigasi dan bukti.

Ketika diwawancarai bnn, Ir. Stanly Handry Ering meminta kepada Polda Sulut, agar  Ibu Ros Tuerah dan Johana Supit dimintai keterangan, sedangkan na-ma-nama pejabat UNIMA yang bertang-gung jawab  adalah Dra. Nontje Bato M.Si  (Kepala Biro AAK yang adalah pelapor di Polres Tondano), Dra. Deitje. A. Katuuk M.Pd (dekan FIP), Prof. Dr.Th. Mautang, M.Kes (Direktur PSKGJ), Dr. H. Lu-mempow, M.Pd (Pembantu Rektor 1 Bidang Akademik), dan Prof .DR.Ph.E.A. Tuerah, Msi, DEA (Rektor UNIMA).

Diduga, tindakan melawan hukum tersebut telah berlangsung selama Tuerah memegang jabatan rektor di UNIMA, dan sesuai informasi  dari sejumlah sumber di UNIMA korbannya sudah mencapai ribuan orang. Padahal kejahatan itu tidak sejalan dengan UU Thn  2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, apalagi ijazah palsu/ilegal itu telah dipergunakan untuk penyesuaian  kepangkatan dan pengangkatan PNS. Makanya, kepada Ka-polda Sulut, Brigjen Dicky Atotoy, Ir. Stanly Handry Ering meminta dan sangat berharap agar segera menindak lanjuti laporannya. "Siapapun dia, apapun dia, baik oknum lembaga atau perorangan yang mengeluarkan ijasah palsu/ilegal, juga mereka yang turut membantu, bahkan orang-orang  yang mengantongi ijazah palsu tersebut, supaya segera diusut tuntas sesuai hukum yang berlaku Di NKRI. Bukti-bukti sudah jelas, apalagi staf Inspektorat Kemendikbud ketika ber-kunjung ke UNIMA mengakui bahwa ijasah yang diperiksa adalah Palsu," tutur Ering kepada bnn.

Menjawab pertanyaan bnn pada acara tatap muka dengan keluarga besar Polres Minahasa di Tondano hari Kamis, 12 Juli 2012, Kapolda Sulut Brigjen Dicky Atotoy, merasa heran karena laporan tindakan kriminal pemalsuan ijazah di UNIMA itu belum ada di meja kerjanya.  (Penulis adalah Kepala Perwakilan Tab bnn Provinsi Sulut, tinggal di Tomohon.)

 

  Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Kapolda NTT), Brigjen Pol. Ricky HP Sitohang, secara terbuka meminta semua pihak di Provinsi NTT, untuk bersama-sama Polda NTT memerangi penyebaran gelap, penjualan serta pemakaian narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba), di seluruh wilayah Provinsi NTT. Mengawali gebrakan itu, Sitohang bertindak tegas membersihkan semua aparat kepolisian di wilayah tersebut melalui tes urine di seluruh wilayah kerja Polda NTT. Wartawan bnn Yapi Abdullah melaporkan dari ibukota NTT, Kupang, sejak sertijab di Mabes Polri Jakarta pada 28 Oktober 2011 dan menerima tampuk pimpinan tertinggi di Mapolda NTT pada 3 November 2011, tak tanggung-tanggung Brigjen Pol Ricky HP Sitohang langsung secara beruntun turun ke semua Markas Kepolisian Resort (Mapolres) di berbagai Kabupaten yang ada di NTT.  "Bagaimana bisa kita berantas narkoba, kalau anggota sendiri terlibat," tutur Brigjen Pol. Ricky HP Sitohang kepada bnn di Kupang, medio Juli 2012. 


PERS di Kota Kupang terkesima, ketika Kapolda NTT, Brigjen Polisi Ricky HP Sitohang, tampil dengan wajah sedih saat bertatap muka dengan wartawan di Kupang, hari Jumat pagi, 26 Juni 2012. "Kami harus obyektif dalam menangani kasus narkoba. Bagaimana bisa kita berantas narkoba, kalau anggota sendiri terlibat!" tegas Brigjen Pol Sitohang.
Sambil terus menunjukkan raut wajah sedih, Ricky Sitohang yang sangat paham kinerja kepolisian NTT karena bertahun-tahun dinas di Polda NTT sebelum memegang tampuk pimpinan tertinggi kepolisian di bumi Lorosae itu, membuka telusuran aktif di jajaran kerjanya.
Dia mengatakan, terbukti sebanyak 34 anggota kepolisian di jajaran lingkup Polres se-NTT terindikasi menggunakan narkotika dan obat terlarang (Narkoba). Indikasi itu berdasarkan hasil test urine yang dilakukan ke seluruh Polres di wilayah NTT, dalam rangka pembersihan diri para petugas kepolisian  di wilayah tersebut.  
Ketiga puluh empat anggota kepolisian yang positif hasil tes urinenya itu, tutur Brigjen Pol. Ricky HP Sitohang, adalah 14 petugas dari Polres Sikka, 12 petugas dari Polres Manggarai Barat, dan 8 orang anggota Polres Kupang Kota. 
Namun demikian, menurut Kapolda Sitohang, saat hasil test urine yang positif itu diteliti lebih lanjut di Laboratorium Forensik (Labfor) Denpasar, kadarnya masih zero atau nol. Sehingga dengan begitu, puluhan oknum polisi yang terindikasi memakai narkoba tersebut masih dalam  kadar yang kecil. "Artinya, bisa jadi oknum anggota itu menggunakan narkoba, tetapi sudah terjadi pada enam bulan atau beberapa bulan terakhir,” tutur Sitohang.
 Menyusul fakta itu, Ricky Sitohang bertekad  membersihkan anggotanya yang selama ini menggunakan narkoba dengan terus melakukan tes urine secara berkala di seluruh Polres.
Dia mengatakan, oknum anggota polisi yang sudah terindikasi menggunakan narkoba akan terus dipantau dan sewaktu-waktu dilakukan tes secara mendadak. "Saya sudah mendata mereka semua yang terindikasi, jika kedapatan positif meng-gunakan narkoba, langsung dipecat. Mereka tidak pantas menjadi polisi," tegasnya.
Selain itu, mantan Direskrim Polda NTT dan Kapolres Alor itu mengatakan, sejak ia memimpin Polda NTT sudah ada dua oknum anggota polisi yang ditetapkan sebagai tersangka karena mengonsumsi narkoba. Kedua oknum polisi tersebut tetap diproses sesuai hukum yang berlaku, dan bila terbukti maka mereka akan dipecat dari keanggotaan Polri. Pasalnya, bagi Kapolda Sitohang, ditindaknya keterlibatan anggota dalam pemakaian dan penjualan narkoba, bukan cuma karena persoalan sistem tetapi lebih karena perilaku. Sehingga para oknum anggota yang seperti itu, sudah menunjukkan perilaku bejat yang tak pantas lagi jadi polisi karena tergiur dengan kemudahan mendapatkan uang dari menjual narkoba. "Untuk itu saya perintahkan seluruh Kapolres mencermati secara teliti ulah anggotanya agar tidak terlibat sebagai pengguna ataupun pengedar narkoba," tandasnya. 
***
DAMPAK gebrakan Brigjen Pol. Sitohang itu berangsur-angsur terlihat di dalam kinerja Polda NTT. Di aula Mapolres (Markas Polres) Sikka hari Rabu pagi, 30 Mei 2012, tes urine 410 anggota Polres Sikka dilakukan mulai dari bintara hingga perwira tanpa pandang bulu. Tes berlangsung serius dilaksanakan tim Sat Narkoba Polda NTT dan Biddokes Polda NTT. "Kami harus bersih dulu, maka saya surati Kapolda minta bantuan Sat Narkoba Polda NTT dan Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Bidokkes) Polda NTT untuk memeriksa urine semua anggota Polres Sikka. Saya sendiri juga ikut diperiksa," kata Kapolres Sikka, AKBP Drs. Ghiri Prawijaya.
Menurut Ghiri, dia tidak main-main dengan pemberantasan narkoba. Tes urine tersebut untuk  mengetahui ada tidaknya anggota yang terindikasi mengonsumsi narkoba, sekaligus membentuk citra Polri bagi pandangan masyarakat bahwa Polres Sikka memberantas narkoba mulai dari lingkungannya sendiri.
Kurang lebih sepuluh hari sebelum tes urine itu dilakukan di Mapolres Sikka, tim Dit Narkoba Polda NTT dipimpin AKP Abubakar dan anggota BNN Pusat hari Senin malam, 21 Mei 2012, berhasil menangkap empat orang yang diduga terlibat masalah narkoba di Sikka. Mereka yang ditangkap adalah IWC, oknum polisi di Polres Sikka, AG, anak pengusaha di Kota Maumere, NM, wanita malam di salah satu pub malam, dan MK, oknum kontraktor di Kota Maumere. Penangkapan itu, tutur Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda NTT, Kompol Antonia Pah, kepada  bnn di ruang kerjanya di Mapolda Kupang, hari Rabu, 18 Juli 2012, cukup mengagetkan jajaran Polres Sikka. Antonia Pah membenarkan bahwa pemberantasan narkoba dari dalam tubuh Polda NTT sungguh-sungguh berjalan serius. "Makanya, operasi di Sikka itu mengagetkan karena tidak ada anggota Polres Sikka yang mengetahui pergerakkan dan pengintaian tim Narkoba Polda NTT," katanya.
Menurut Antonia Pah, penangkapan oknum polisi dan sejumlah warga terkait kasus narkoba itu sekaligus menjadi contoh ketegasan pimpinan Polda NTT. "Memang benar ada penangkapan yang dipimpin AKP Abubakar. Empat orang langsung diamankan di sel Mapolres Sikka. Oknum anggota polisi yang terlibat harus menanggung risiko tertinggi, dipecat," kata Antonia.
Para anggota Polres Sikka terheran-heran dengan penangkapan IWC, karena oknum polisi yang bertugas di Polres Sikka itu dikenal sebagai pribadi yang santun dan sangat baik. Makanya, suasana di Polres Sikka pun langsung ramai dan hangat membicarakan proses penangkapan yang luar biasa karena pergerakan tim narkoba Polda NTT berlangsung dari bawah hingga ke atas sama sekali tanpa sepengetahuan anggota Polres Sikka. Dalam proses penangkapan itu, satu unit mobil sedan bernomor polisi L 1954 CH warna hitam milik AG, anak oknum pengusaha di Kota Maumere, ikut disita.
Namun dalam sidang mengungkap kasus tersebut, salah seorang tersangka SK alias Mus menyebutkan bahwa bukan hanya oknum polisi IWC yang terlibat. Masih ada tiga oknum polisi lagi yang juga ikut berperan. "Mereka adalah J, Gn, dan Gr. Ketiganya bertugas di Polres Sikka," papar kuasa hukum Mus, Meridian Dewanta Dado, SH, kepada pers.
Sementara itu, pembersihan di tubuh Polda NTT terus merambah serius. Kompol. Antonia Pah mengatakan, di Kabupaten TTU operasi pembersihan Polda NTT berhasil menciduk Bambang,  seorang pengusaha asal Surabaya, Jatim. Dia diringkus Tim Direkorat Reserse Narkoba Polda NTT di hotel Ariesta kamar 104. Dalam penggrebegkan itu, polisi menangkap Bambang sedang mengonsumsi sabu-sabu. Setelah ditangkap di kamar hotel itu, dalam pemeriksaan polisi Bambang mengatakan kalau narkoba tersebut ia peroleh dari anggota polisi berinisial AS.  Petugas pun diturunkan memantau keberadaan Brigpol Andi Sugianto alias AS di rumahnya di Kampung Sabu, Kefa Tengah, dekat Mapolres TTU. Naas dialami AS, ketika anggota Dit. Narkoba Polda NTT tiba di kediamannya itu, AS lagi santai dan tidak mengetahui bahwa Bambang sudah ditangkap di hotel Ariesta. AS pun diperiksa dan petugas menyita sabu-sabu seberat 80 gram di rumah AS.
Brigpol Andi Sugianto terancam Undang-Undang Narkotika pasal 112 ayat 2 jo dan pasal 114 ayat 1 no 35 tahun 2009 dengan hukuman maksimum 20 tahun penjara, dan terancam dipecat dari kepolisian jika terbukti sebagai pemakai dan pengedar narkoba.
Wakapolres TTU, Kompol Yulian Perdana, S.Ik, mewakili Kapolres TTU, AKBP I Gde Mega Suparwitha, yang saat ditemui bnn tidak berada di tempat mengatakan, memang benar telah terjadi penangkapan terhadap AS, salah satu anggota polisi di Sikka.
Sementara itu, dalam kunjungan kerjanya ke Polres Belu, Kapolda NTT Brigjen Sitohang menegaskan, seluruh jajaran Polda NTT tak cuma dilarang terlibat narkoba, tetapi juga perjudian, dan semua tindakan naif yang mempermalukan kepolisian RI.
Sikap profesional itu, kata Sitohang, bukan sekedar terlihat ketika anggota polisi mengambil solusi bertindak memutuskan suatu perkara atau kasus. "Tetapi harus terlihat dari prilaku keseharian setiap anggota Polri. Ingat! Bukan sekedar taat dan mengikuti sistem, tetapi bertindaklah dengan prilaku yang baik dan benar untuk kepentingan masyarakat luas," kata Brigjen Pol Ricky Sitohang.
Sikap itu adalah bagian dari profesionalisme Polri yang kini sedang terus menerus diberlakukan dan ditanamkan dari Mabes Polri di Jakarta. Hal itu terungkap pada kunjungan Kapolri Jendral Timur Pradopo, ketika meresmikan Mapolres Belu 21 Juni 2012. Jendral Timur Pradopo mengharapkan, seluruh jajaran Polda NTT taat sistem dan profesional dalam bertindak dan beprilaku. "Polri harus mampu menjadi pengayom sekaligus sahabat masyarakat luas," ujarnya.
Kepada bnn di Belu, Kapolres Belu, AKBP Darmawan Sunarko, mengatakan pihaknya kian tegas membersihkan peredaran gelap narkoba di Kabupaten Belu baik ke dalam jajarannya maupun ke masyarakat luas. "Tidak hanya sampai di situ saja. Kami juga melakukan operasi rutin untuk menghentikan perjudian dan segala bentuk tindakan banditisme di sini. Makanya, judi dalam bentuk apapun seperti Kupon Putih, Kuru-Kuru, Bola Guling, dan Sabung Ayam, kami larang karena tidak dibenarkan secara hukum dan agama manapun," kata AKBP Sunarko.
Menjawab pertanyaan bnn soal maraknya perjudian di Belu yang justru terkait dengan ketiadaan lapangan kerja, Kapolres Belu AKBP Darmawan Sunarko dengan tegas mengatakan, judi dalam aturan hukum jelas diatur dalam KUHP khususnya pasal 303. "Jadi, kalau ada yang berjudi akan ditindak tegas, siapapun dia."
 Menurut dia, sejak awal kepemimpinannya di Polres Belu, dia sudah tegaskan segala jenis perjudian dihentikan dan hal itu terus dipantau dan setiap bandar dan pelaku perjudian ditangkap. Secara khusus, dia mengatakan kepada bnn bahwa sebagai Polres yang bersebelahan langsung dengan negara tetangga Timor Leste, Polres Belu sungguh-sungguh menerapkan pengetatan kontrol pada setiap anggota polisi di wilayah itu. Pasalnya, wilayah kerjanya yang terletak di wilayah perbatasan negara tetangga itu, cukup terbuka menjadi wilayah objek bisnis para pengedar narkoba dan berbagai bisnis yang dilarang secara hukum. Makanya, keterlibatan anggota Polri di wilayah itu, baik yang terlibat narkoba maupun yang membekengi bisnis-bisnis terlarang, terus dipantau secara tetap.
Pantauan bnn di lapangan mengungkapkan, sejumlah tempat perjudian Sabung Ayam di Belu lebih didominasi pengusaha dan warga keturunan Cina. "Grup Sabung Ayam itu pada hari tertentu adalah juga pengguna narkoba jenis sabu-sabu, yang sering masuk keluar pintu perbatasan ke negara Timor Leste," kata sumber bnn di Belu.
Modus operandi penyebaran barang gelap itu, kata sumber tersebut, ialah para pebisnis narkoba menggunakan jasa para purel di hotel, dan menyuplai pesanan sabu dari Kota Kupang. "Saya berharap, petugas lebih intensif melakukan peng-awasan terhadap para purel hotel, karena salah satu kunci mata rantai perdagangan gelap tersebut ada di tangan mereka," ujar sumber yang dulunya tokoh mahasiswa asal Belu.

***

KETEGASAN pimpinan Polda NTT itu menghasilkan tindak disiplin yang meluas di berbagai sektor kegiatan anggota Polri di wilayah itu. Bukan hanya keterlibatan para anggota Polri pada narkoba, perjudian, dan kegiatan-kegiatan banditisme lainnya, tetapi juga kedisiplinan menyangkut kinerja secara umum.
Karena itu, Kabid Humas Polda NTT, Kompol Antonia Pah, menjelaskan di Polres Kupang Kota, tiga anggota Polri diberhentikan secara tidak hormat. Mereka adalah Bripda Davidson Timotius Sir, Bripda Agustina Barros Pareira, dan Briptu Adi Muhamat, yang dipecat dari jabatan dan keanggotannya di Polda NTT.
Wakapolres Kupang Kota, Kompol Giyarto dan Kabag Ops AKP I Ketut Wiyasa, mewakili Kapolres Kupang Kota, AKBP Tito Basuki S.Ik, yang tak berada di tempat ketika ditemui bnn, membenarkan terjadinya pemecatan kepada ketiga anggota Polres Kupang Kota itu.  "Sidang komisi kode etik Polri kepada tiga anggota polisi tersebut sudah berjalan, dan dalam sidang itu pihak Polresta merekomendasikan untuk pemberhentian dengan tidak hormat ke Kapolda dan diterbitkanlah Skep pemecatan mereka. Dan, tindakan itu sudah terjadi sesuai dengan surat keputusan Kapolda tanggal 30 Juni 2012 untuk memberhentikan mereka dengan tidak hormat," papar Kompol Giyarto.
Menurut dia, kasus yang menyebabkan ketiga anggota tersebut dipecat, adalah tindakan tidak disiplin yang berlarut-larut. Bripda Davidson Sir terbukti meninggalkan tugas sejak 15 Juni 2011 hingga 04 November 2011. Bripda Agustina Barros Pareira meninggalkan tugas dari 07 Desember 2010 hingga  08 Juli 2011. Dan, Briptu Adi Muhamat terbukti melakukan perzinahan dengan Serly Suryati Kase sehingga memiliki anak di luar nikah.
Menjawab pertanyaan bnn di Kupang, Kapolda NTT, Brigjen Polisi Ricky H.P Sitohang, mengatakan pengetatan disiplin seluruh jajaran Polda NTT itu merupakan bagian dari citra baru Polri. Untuk itu, jajarannya akan menggelar operasi besar-besaran menyisir berbagai tempat hiburan malam di seluruh NTT. "Nanti tim terdiri dari propam, narkoba, reskrim, dan anggota lainnya," ujar Sitohang.
Dia tegaskan bila petugas mendapatkan transaksi narkoba dan penyimpanan narkoba di tempat hiburan malam, maka kepolisian akan menutup tempat hiburan malam tersebut. "Kalau tempat hiburan malam dijadikan sebagai tempat transaksi narkoba atau menikmati narkoba, berarti tempat itu bukan tempat refresing. Tetapi tempat meng-hancurkan anak- anak bangsa," jelas Sitohang.
Selain itu, dia juga perintahkan seluruh perem-puan pendamping tamu hotel (purel) di diskotik dan karaoke agar diperiksa dan dites urine. "Dan untuk operasi narkoba, saya nanti yang langsung pimpin di lapangan," tandas Kapolda Sitohang, sambil menambahkan peredaran narkoba mutlak harus diwaspadai di NTT.
Dia mendeteksi ada tiga titik yang jadi pintu masuk narkoba di NTT. Yakni tapal batas Indonesia-Timor Leste, Labuan Bajo, dan Maumere. Makanya, Sitohang minta agar para hakim yang menyidangkan kasus narkoba menghukum terdakwa yang terbukti bersalah dengan hukuman seberat-beratnya untuk memberikan efek jera. "Bila perlu, jatuhkan hukuman mati bagi pengedar narkoba, sebab bila diberikan hukuman ringan bukan mustahil para pelakunya tidak jera atas perbuatan keji mereka," tutur Sitohang.
Untuk itu, dia ajak semua phak di NTT untuk bergandengan tangan memberantas narkoba baik di dalam tubuh anggota Polri di NTT, maupun seluruh masyarakat luas. Dan, gayung pun bersambut, semua pihak di NTT langsung mengatakan siap mendukung Polda NTT. Misalnya, GM Angkasa Pura Kupang, Imam Pramono, S.Kom, MM, beserta kepala seksi Anshori dan Edi Cahyono, ketika ditemui bnn hari Selasa, 17 Juli 2012, di kantor Perum Angkasa Pura Kupang mengatakan, secara tegas mendukung kebaijakan Polda NTT sehingga seluruh pintu udara dan darat sudah diwasai ketat.
Dengan tegas sebagai pimpinan tertinggi Angkasa Pura di NTT, Imam mengatakan, pihaknya menetapkan waktu kerja 24 jam di depan pintu masuk deteksi para penumpang pesawat yang dijaga oleh security. "Tak ada manusia dan barang bisa lewat tanpa terdeteksi peralatan XRay kami," tutur Imam.
Jika ada yang tertangkap membawa narkoba, Imam Pramono mengatakan mereka langsung serahkan sepenuhnya kepada security dan ditindak lanjuti ke TNI AU sebagai pemilik lahan dan diteruskan ke Polda NTT.
Sedangkan Kadivre Bulog NTT, Suherman, melalui Kabid Pelayanan Publik, Mahmud Djenal mengatakan, dari Bulog NTT dukungan konkret yang diupayakan terus menerus ialah memenuhi kebutuhan beras agar menolong masyarakat memenuhi kebutuhan pangan mereka. Menurut Mahmud, kekurangan pangan dan kemiskinan selalu menjadi petaka yang menyebabkan orang terjebak manisnya tawaran narkoba. "Makanya, pimpinan Bulog NTT memacu seluruh karyawan untuk menjalankan kinerja dengan disiplin yang tinggi. Dari situlah kami mendukung kebijakan Eksekutif NTT termasuk Polda NTT," kata Mahmud Djenal.   
Salah satu strategi yang dilakukan Bulog NTT untuk mengatasi kekurangan pangan dan stok  beras di gudang Bulog Tenau Kupang dan penyaluran stok ke setiap kabupaten-kabupaten di NTT, ialah mengenal situasi jumlah kebutuhan itu dan tingkat kemampuan beli masyarakat. Kemudian Bulog berupaya melakukan penumpukan stok dan pembesaran stok di setiap wilayah disesuaikan dengan kebutuhan antar tempat, antar waktu, baru dilakukan pembelian atau pengadaan dari para petani setempat dengan tujuan tidak terjadi penumpukan stok sehingga tidak mengurangi ketahanan pangan padi setempat.
Di  samping itu, Bulog berupaya mengangkat daya beli dari petani  produsen padi setempat, bukan sekedar mendatangkan beras dari daerah-daerah kantong produksi nasional seperti Jatim, Sulsel, dan NTB. Karena itu, posisi stok NTT saat ini 30.000 ton lebih. "Ini diperkirakan cukup untuk menanggulangi stok bulan Juli hingga Oktober 2012. Sedangkan pengadaan di wilayah NTT baik pengadaan lokal maupun pengadaan dari daerah lain akan terus didatangkan, sehingga mencapai target di atas 150.000 ton," kata Mahmud mewakili Kadivre Bulog NTT, Suherman.
Jika strategi itu berlangsung mulus, maka sepanjang tahun 2012 NTT tidak akan mengalami kekurangan stok dari angka upaya 150.000 ton itu. Mahmud mengakui, kemungkinan terjadi kendala pada distribusi raskin (beras miskin) karena angka penurunan STTM yang sangat signifikan. Hampir di seluruh wilayah yang sudah dilakukan sosialisasi, rata-rata menolak mengu-rus lokasi raskin. "Ya karena menghindari terjadinya gejolak sosial masyarakat hampir di setiap kabupaten, bahkan Belu terang-terangan bupatinya minta dipending bahkan menolak kalau masih memakai data KPPLS pada tahun 2011 yang sudah dimodifikasi oleh tim nasional percepatan penanggulangan kemiskinan. Angka itu berbeda jauh dengan data BPS sehingga banyak warga yang seharusnya menerima raskin tidak termasuk dalam data itu. Ini yang akan jadi persoalan besar," katanya.
 Namun demikian, Bulog NTT bertekad mencari jalan terbaik sehingga tidak ada gejolak kekurangan pangan yang nantinya bakal memicu frustrasi masyarakat.
"Kami berharap dengan upaya terus menerus dari Bulog NTT, kami dapat menyumbangkan hasil maksimal bagi ketenangan masyarakat, sehingga keamanan di wilayah NTT terdukung penuh dari hasil kerja kami," kata Mahmud menjawab pertanyaan pers.
Kepada bnn Kapolda NTT, Brigjen Pol. Ricky Sitohang menyampaikan respek dan terima kasihnya atas dukungan semua pihak baik di dalam jajaran Polda NTT maupun instansi pemerintah dan swasta di wilayah Provinsi NTT. (didukung tim bnn NTT)  

Air Mata dan Permohonan Maaf Rano Karno: Lambang Doa dan Kasih Sayangnya!


TERTANGKAPNYA Raka Widyarma, putra angkat H Rano Karno, Wakil Gubernur yang sekaligus Ketua Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Banten, di rumah Jl Perkici Raya EB Nomor 42 Bintaro Jaya Sektor 5, Jakarta Selatan, hari Selasa, 6 Maret 2012, memunculkan sejumlah prediksi dan tanggapan miring.
Pengamat politik dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten, Gandung Ismanto, memprediksikan kasus itu bisa mempengaruhi citra politik Rano Karno sebagai pejabat publik apalagi sebagai Wakil Gubernur. Namun, menurut Gandung, hal itu juga sekaligus menjadi tantangan bagi Rano untuk memanfaatkan momen negatif menjadi hal positif.  Seorang wartawan senior, mantan kuli tinta di Harian Kompas mengatakan kepada bnn, prediksi Gandung itu ada benarnya. Pasalnya, sekitar awal tahun 90an, Grup Lippo dihebohkan dengan pemberitaan seorang petinggi Lippo di AS terlibat pat gulipat mendukung dana bagi terpi-lihnya Bill Clinton sebagai Presiden AS. "Saat itu, seorang petinggi Lippo ber-tanya kepada saya, apakah Grup Lippo dirugikan  akibat berita itu. Saya jawab, nggaklah. Justru luar biasa yang dila-kukan putra mahkota Lippo (James Riady, red) saat itu, sehingga Harian Kompas mau memuat berita tentang Lippo di AS tersebut sampai kurang lebih 30 kali berturut-turut di halaman depan. Buktinya, kan pada saat krisis moneter tahun 1998-2000, Lippo mampu selamat karena didukung para relasinya. Itu karena James mampu mengubah isu miring menjadi positif. Jadi, itu pula yang perlu ditunjukkan Rano," ujar wartawan yang minta identitasnya tidak dipublikasikan.

Tanggapan paling miring datang dari Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Asrorun Ni'am. Menurut dia, Rano Karno sebagai pejabat publik sekaligus public figur, sebaiknya mundur dari jabatannya sebagai Wakil Gubernur Banten sekaligus Ketua Badan Narkotika Provinsi Banten. Pasalnya, Asrorun menilai Rano gagal mendidik putra angkatnya tersebut. "Kalau gentleman secara ksatria seharusnya mundur. Dia terbukti gagal melindungi anaknya sendiri. Harus ada pertanggungjawaban hukumnya," tutur Asrorun kepada pers, hari Minggu, 11 Maret 2012. Membaca, men-dengar, dan menyaksikan, tanggapan-tanggapan miring terhadap Rano Karno terkait persoalan putra angkatnya itu, Gembala Jemaat Gereja Bethel Indonesia (GBI) Bahtera Kasih, Mal Ciputat, Pdt. George Rompas mengatakan dengan tegas hari Sabtu, 21 Juli 2012, kepada bnn: "Kasus itu terjadi beberapa bulan silam, tetapi sikap yang ditunjukkan Pak Rano Karno menang-gapi keterlibatan putranya menggunakan narkoba itu adalah sikap seorang ayah sejati yang patuh dicontoh. Tak pantas Pak Rano dinista atas kejadian itu." Soalnya, menurut George, terlalu banyak sebab yang meng-akibatkan seseorang terpengaruh narkoba, dan kuncinya terletak pada ketahanan jiwa orang tersebut. "Saya juga sempat bertahun-tahun tersesat akibat narkoba, bahkan saya sampai mendekam di penjara. Tapi, akhirnya saya menemukan jati diri saya sekaligus jalan pulang. Dan, itu hanya karena kasih sayang mama, papa, dan saudara-saudara saya," ungkap George serius. Setelah sadar akan kesalahannya, barulah George mengerti bahwa kasih sayang itu menjadi obat paling mujarab. Dia mengerti bahwa ibu, kakak dan adik-adiknya, begitu mengasihi dia. Apalagi ayahnya, sangat membangun semangatnya untuk kembali hidup normal. "Sebagai ayah, Pak Rano  sungguh-sungguh menga-sihi Raka, sekalipun dia  itu bukan darah dagingnya. Itulah yang saya tangkap dari sikap Pak Rano. Permohonan maaf dan air mata yang dia tujukan buat Raka, itulah sikap seorang ayah yang bertanggung jawab. Di air mata itu, Pak Rano bukan sekedar mengungkapkan kesedihan, tapi di situ ada kasih sayang dan ada doanya," kata George dengan mata berkaca-kaca dari atas kursi rodanya.

***

RAKA ditangkap bersama teman wanitanya, Karina Andetia, oleh Polres Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. Ia terbukti bersalah telah memesan paket narkoba berisi 5 butir ekstasi dari warga negara Malaysia bermarga Tan lewat aplikasi iPhone, WhatsApp Messenger.
Wakil Gubernur Banten H Rano Karno sesungguhnya sudah mendapat kabar penangkapan anaknya itu, beberapa saat setelah Raka ditangkap hari Selasa, 6 Maret 2012. Namun, Rano  baru bisa bertemu dengan anaknya yang ditahan di Mapolres Bandara Soekarno-Hatta itu, hari Sabtu, 10 Maret 2012, untuk memberi dukungan moril kepada Raka.

Rano tak kuasa menahan air matanya. Dia pun menangis dan mengatakan, "sebenarnya malu, seorang Wagub mena-ngis seperti ini. Tapi ini perih, dia anak saya," tutur Rano kepada pers di kediaman pribadinya, hari Sabtu malam, 10 Maret 2012, usai menjenguk Raka.
Dia akui, dia kecewa dan marah. "Saya simpan selama beberapa hari dan menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan ini. Tapi, inilah situasinya, anak saya memang pernah memakai obat-obatan," ujar Rano. Menurut dia, Raka memang putra angkatnya yang dia besarkan sejak bayi atas persetujuan ayah kandungnya yang juga sahabatnya, Piter Hidayat. Dalam pertemuan pers malam itu, Rano didampingi Piter Hidayat.

Rano mengakui, anaknya memang pernah memakai obat-obatan karena depresi sejak dulu. Raka sering diejek karena dia bukan anak kandung Rano. Dan Raka, tutur Rano, adalah seorang penderita penyakit bipolar, mudah sedih. Emosinya labil dan mudah stres. Selama ini, Rano tahu bahwa dokter memberikan obat khusus bagi Raka. Tapi dia tak menyangka bahwa putranya itu kemudian juga mengon-sumsi narkoba. "Dia pernah mengonsumsi, tapi saya tidak tahu apa jenisnya, dan saya tahunya obat dokter," kata Rano.
Saat bertemu di tahanan, ia meminta Raka jangan pernah merasa bersalah kepada dirinya sebagai ayah angkat. "Saya katakan pada dia, kamu tidak perlu merasa bersalah pada saya, tapi kamu harus merasa bersalah pada diri kamu sendiri. Saya juga meminta maaf kepada kamu, Nak. Mungkin karena saya kurang bisa memberikan waktu untukmu," ujar Rano.

George Rompas mengatakan, ketika dia membaca dan mendengar Rano Karno mengatakan: “Saya tidak akan meninggalkan Raka sedetik pun, apa pun konsekuensinya,” dia pun tertunduk dan mengucap syukur kepada Tuhan. “Kendati mungkin agak terlambat dari waktu kejadian itu, tetapi saya berjanji akan bicara kepada media. Sebab cinta kasih seorang ayah yang luar biasa seperti itulah, yang sangat dibutuhkan para penderita pengguna narkoba," simpul Pdt George Rompas yang sudah kurang lebih delapan tahun menggunakan kursi roda.  (ian/erde)

Bakar Tongkang Tradisi Bagansiapiapi Sejak Tahun 1878


Bagansiapiapi, bnn - Prosesi Bakar Tongkang Masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi, ibukota Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), pada tahun ini dapat dikatakan terbesar sepanjang penyelenggaraannya dari tahun ke tahun. Upacara ritual aliran kepercayaan itu, dilakukan untuk memuja Dewa Kie Ong Ya dan Dewa Tai Sun, yang menurut mitos Bangsa Cina adalah Dewa Laut dan Dewa Pengembara. Upacara ini diseleng-garakan setiap tanggal 16 Bulan 5 penanggalan Imlek, yang tahun ini jatuh pada tanggal 5 Juli 2012 .

Oleh karena itu ritual ini juga dikenal dengan istilah Go Ge Cap Lak yang artinya tanggal 16 bulan 5. Dan, ritual ini telah diselenggarakan di Kota Ikan (Bagansiapiapi) sejak tahun 1878, atau sudah berlangsung sejak 134 tahun silam. Tetapi selama era Orde Baru, upacara ini sempat dilarang.

Bagi orang-orang keturunan Cina di Bagansiapiapi, ritual ini merupakan pemberian persembahan bagi Dewa Kie Ong Ya dan Dewa Tai Sun, yang dipercayai telah menyelamatkan perjalanan 18 Orang bermarga Ang. Semuanya berjenis kelamin laki-laki dari Songkla di Selatan Thailand ke Bagansiapiapi.

Setelah melalui pengembaraan yang amat mele-lahkan, ke 18 orang bermarga Ang itu pada tahun 1872 mendarat dengan selamat di sebuah kota pantai di Pulau Andalas yang kemudian dikenal sebagai Kota Bagan-siapiapi. Makanya, mereka dipandang sebagai cikal bakal orang-orang Cina di Kota Bagansiapiapi.
Versi Lain menerangkan, selain 18 orang bermarga Ang yang semuanya laki-laki itu, ada seorang wanita Siam turut dalam rombongan tersebut. Wanita Siam itu adalah istri salah seorang bermarga Ang yang ikut dalam rombongan itu.

Konon kisahnya, ada orang yang membocorkan rahasia bahwa komunitas Cina di Songkla akan diserang oleh orang-orang Siam yang tak suka melihat kehadiran mereka di tempat itu. Maka wanita Siam itupun dibawa lari karena khawatir akan dibunuh oleh orang-orang Siam itu sendiri. Dan, peristiwa itulah yang menjadi cikal bakal lahirnya ritual Bakar Tongkang.

Bagi orang-orang Cina asal Bagansiapiapi, baik itu yang berada di Indonesia maupun yang sudah menetap di luar negeri, ada kewajiban moral untuk berpartisipasi dalam upacara tahunan tersebut. Bagi yang tinggal di luar kota, mereka merasa terpanggil untuk pulang untuk ambil bagian dalam upacara tersebut.

Bila tidak sempat pulang mereka merasa berkewajiban me-nyumbang untuk kelenteng, sebab bila tidak ambil bagian sama sekali, mereka percaya malapetaka akan menimpa diri mereka dan Keluarga. Jumlah mereka itu amat banyak, mencapai jutaan orang. Karena itulah event itu dianggap mengandung nilai jual yang amat tinggi menyusul peranan spiritualnya ber-potensi mendatangkan orang-orang dari dalam dan luar negeri ribuan orang setiap tahunnya.

Diakui oleh Pemkab Rokan Hilir, penyeleng-garaan event spektakuler tersebut masih menyimpan kontroversi tersendiri. Namun adanya pihak-pihak yang belum dapat menerima event itu tidak menyurutkan tekad Pemkab Rokan Hilir untuk menyokong panitia penyelenggara dalam rangka mendatangkan Wislok, Wisnus, dan Wisman.

Pada acara tahun 2012 ini, diperkirakan tak kurang dari 2000 orang memadati Kota Bagansiapiapi untuk menyaksikan Ritual Bakar Tongkang.

Acara itu kali ini dihadiri Dirjen P2HP (Pengolahan Pemasaran Hasil Perikanan) Kemen-terian Perikanan dan Kelautan RI, Ir. Saut Parulian Hutagalung MSi, Kapolda Riau Brigjen Pol. Suedi Husin beserta rombongan, Bupati Rohil H. Annas Maamun, Ketua DPRD Rohil Nasruddin Hasan, dan para Kepala Dinas/Badan/Kantor di lingkungan Pemkab Rohil.

"Pada acara tahun ini, tumbang tiang tongkangnya mengarah ke darat dan ke laut, yang menurut pemahaman masyarakat Tionghoa Bagansiapiapi mengisyaratkan bahwa rezeki ada di laut dan di darat," kata Yahya, salah seorang warga Cina Bagansiapiapi.

Masyarakat luas di wilayah Rohil yakin, bahwa daerah manapun yang memiliki acara yang berpotensi bisnis seperti itu, pasti akan berupaya mengusungnya untuk dijual. Apalagi sangat dikenal, orang-orang Cina suka berbelanja. Mereka suka makan-makanan yang enak-enak, sehingga berkumpulnya sekitar 2000 orang dari luar Kota Bagansiapiapi untuk menyaksikan ritual upacara Bakar Tongkang tahun ini ke kota tersebut, dinilai sebagai aliran dana yang sangat besar masuk ke wilayah Rokan Hilir.

Pasalnya, bila seorang pengunjung mengeluarkan uang minimal sebesar Rp 1 juta saja untuk kebutuhan makan minum, penginapan,  dan berbelanja dalam sehari, maka dipastikan ada dana sebesar Rp 2 milyar per hari masuk ke semua segi dalam kehidupan bisnis di kota itu.   

Artinya, kehadiran para pengunjung ritual upacara Bakar Tongkang otomatis memberikan penghasilan tambahan yang sangat signifikan kepada pemilik hotel restoran, kedai-kedai kelontong, bahkan tukang beca, ojek, para pengusaha jasa angkutan, dan lain-lain.

Upacara menghidupkan kembali event Bakar Tongkang itu sesungguhnya sudah dimulai pada tahun 1992, setelah dilarang sejak tahun 1966. Namun, barulah pada tahun 1999 diizinkan menyusul keputusan Presiden Gus mencabut semua jenis larangan seperti itu.

Tahun-tahun pertama diselenggarakannya kembali event tersebut menghadapi banyak gangguan. Tapi pada tahun 2003, ritual Bakar Tongkang diangkat ke layar kaca oleh Pemkab Rohil melalui "Cerita ke Langit," berdasarkan novel Ediruslan Peamanriza dan skenarionya ditulis oleh sastrawan dan budayawan Rohil, Alm. H. Sudarno Mahyudin.

Lantas sinetron itu dibintangi sederetan artis tenar seperti Hendri Hendarto, Eva Malik, Sultan Saladin, Olga Lydia, dan seorang bintang tamu asal Singapura, Marina Yusuf, yang kemudian dita-yangkan TVRI pada 2 Oktober 2004. Sejak saat itulah dapat dikatakan gaung Bakar Tongkang tidak pernah senyap.

Tahun 2005, Olga Lydia kembali ke Kota Bagansiapiapi membawa kru Trans-TV untuk mengekspos ritual Bakar Tongkang. Kru Trans-TV sempat mewawancarai Sudarno Mahyudin seputar Riwayat Bakar Tongkang itu. Dan pada tahun 2007, Kru AnTV turun ke Bagansiapiapi untuk meng-ekspose acara ritual Bakar Tongkang. Pada tahun itu juga Bakar Tongkang mini dipertunjukan di Taman Mini Indonesia Indah. Tak kurang dari 10 ribu pengunjung menyaksikan ekspose tersebut, dan pertunjukan itu juga dihadiri 27 perwakilan negara asing yang ada di Jakarta.

Kemudian pada tahun 2012 ini, dapat dikatakan kemeriahan upacara Bakar Tongkang merupakan puncak acara dari tahun-tahun sebelumnya, sehingga diharapkan di tahun-tahun mendatang lebih bakal kian meriah lagi. (alpasera/afriz)

Berita Nasional Narkoba